Meta AI Terancam Disalahgunakan: Pengakuan Hacker Soal Pembajakan Akun Instagram
Dalam dunia digital yang semakin canggih, teknologi yang dirancang untuk membantu kita juga bisa disalahgunakan. Baru-baru ini, terungkap bahwa chatbot AI milik Meta, yang dikenal sebagai Meta AI Support Assistant, telah dimanfaatkan oleh para hacker untuk mengambil alih akun Instagram pengguna lain. Situasi ini mengundang perhatian luas dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengguna media sosial.
Keberadaan Celah Keamanan di Meta AI Support Assistant
Meta AI Support Assistant, yang diluncurkan pada Maret lalu, seharusnya berfungsi sebagai solusi untuk membantu pengguna mengatasi berbagai masalah terkait akun Instagram mereka. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk melakukan reset password, mengaktifkan autentikasi dua faktor (2FA), dan memulihkan akun yang terkunci.
Namun, laporan dari media teknologi 404 Media mengungkapkan bahwa beberapa hacker berhasil menemukan celah keamanan dalam sistem ini. Dengan memanfaatkan chatbot tersebut, mereka dapat dengan mudah membajak akun Instagram orang lain. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga keamanan dari alat yang seharusnya membantu kita.
Metode Pembajakan yang Ditemukan oleh Hacker
Dalam sebuah video yang beredar di platform Telegram, seorang hacker menunjukkan cara mereka mengambil alih akun Instagram hanya dengan meminta chatbot Meta untuk mengganti alamat email yang terhubung ke akun target. Proses ini berlangsung dengan cepat, di mana chatbot mengirimkan kode verifikasi ke email milik hacker.
Setelah menerima kode tersebut, hacker dapat menghubungkan email baru ke akun korban dan mereset kata sandi. Akibatnya, pemilik akun asli kehilangan akses sepenuhnya. Praktik ini menunjukkan betapa mudahnya bagi hacker untuk mengeksploitasi celah keamanan yang ada, terutama bagi mereka yang tidak menyadari potensi ancaman ini.
Target yang Dikejar Para Hacker
Para hacker tidak sembarangan dalam memilih target. Mereka cenderung mengincar akun Instagram yang memiliki username bernilai tinggi dan langka. Misalnya, akun dengan satu huruf, satu kata pendek, atau nama yang dianggap berharga dan bisa dijual dengan harga tinggi di pasar gelap. Taktik ini menunjukkan bahwa pembajakan akun bukan hanya sekadar iseng, tetapi juga bisa menjadi bisnis yang menguntungkan bagi pelaku kejahatan siber.
Beberapa hacker bahkan menggunakan VPN untuk menyamarkan lokasi mereka, sehingga terlihat berada di wilayah yang sama dengan pemilik akun saat berinteraksi dengan chatbot Meta. Taktik ini semakin memperkuat kesan bahwa pembajakan akun Instagram adalah tindakan yang sudah dipikirkan dengan matang.
Kasus Pembajakan Terkait Akun Terkenal
Kasus ini mencuat bersamaan dengan serangkaian pembajakan akun Instagram yang melibatkan akun-akun terkenal. Salah satu yang mencuri perhatian adalah akun @obamawhitehouse, yang pernah digunakan selama pemerintahan Presiden Barack Obama. Akun tersebut tiba-tiba mengunggah gambar berisi propaganda sebelum akhirnya berhasil diamankan kembali.
Selain itu, akun Instagram milik petinggi Angkatan Antariksa Amerika Serikat (US Space Force) dan peritel kosmetik Sephora juga dilaporkan sempat menjadi korban pembajakan. Kejadian-kejadian ini menunjukkan bahwa tidak ada akun yang benar-benar aman, bahkan akun dengan reputasi tinggi sekalipun.
Dengan semakin meningkatnya ancaman pembajakan akun, penting bagi pengguna untuk lebih waspada dan menjaga keamanan akun mereka. Pengguna disarankan untuk menggunakan autentikasi dua faktor (2FA) dan tidak memberikan informasi pribadi kepada pihak yang tidak dikenal.
Dalam dunia yang semakin digital, kita harus terus beradaptasi dan waspada terhadap berbagai ancaman yang mungkin muncul. Meta, sebagai penyedia layanan, juga harus bertanggung jawab untuk memperkuat keamanan sistem mereka agar pengguna dapat merasa aman saat menggunakan platform yang mereka sediakan.
Sumber: https://tekno.kompas.com/read/2026/06/03/19090047/pengakuan-hacker-meta-ai-dipakai-untuk-bajak-akun-instagram




