Belakangan ini, banyak beredar karya yang dibuat oleh masyarakat umum Artificial Intelligence (AI) di media sosial yang dapat memicu disinformasi. Terlebih lagi hadirnya teknologi AI deepfake yang memungkinkan pemalsuan sebuah video atau foto. Keberadaan deepfake menjelangkan garis pembatas antara hal-hal yang asli dan yang tiruan menjadi lebih samar.
Video seseorang yang berbicara di depan kamera tak lagi bisa dijadikan jaminan kebenaran karena teknologi deepfake memungkinkan wajah, suara, dan ekspresi seseorang dipalsukan dengan sangat meyakinkan.
Deepfake layaknya pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menawarkan inovasi dan manfaat melalui kecanggihan artificial intelligence (AI), membuka peluang besar dalam berbagai bidang seperti hiburan, pendidikan, dan riset. Namun, di sisi lain, deepfake juga menimbulkan risiko dan ancaman yang bisa memburamkan kenyataan, seperti pencemaran nama baik.
Selain deepfake , AI generative Seperti halnya ChatGPT dan Gemini, mereka pun mampu untuk melakukan ini. generate ilmustrasi ataupun rekaman bergerak. Sebagai contoh, pengguna bisa menginputannya. prompt "hasilnya buatlah ilustrasi tentang pemandangan kebakaran hebat di kediaman seseorang yang terhormat" atau "hasilnya ciptakan animasi mengenai pedagang makanan ringan yang menggunakan bahan baku dari material konstruksi". kemudian, gambarkan hasil tersebut. prompt tersebut disebar ke media sosial yang dapat memicu disinformasi di masyarakat.
Berbekal kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI), kini siapa pun dapat menghasilkan konten menggunakan AI dengan investasi finansial yang minim.
Menanggapi masifnya penggunaan AI di Indonesia, Kemkomdigi akan meluncurkan Roadmap atau peta jalan AI pada bulan Juni ini. Roadmap Harapannya adalah untuk mengubah hal ini menjadi peraturan terkait penerapan AI di Indonesia.
"Jadi mohon bersabar, Juni InsyaAllah roadmap-nya keluar, kemudian dari situ kita akan turunkan ke dalam bentuk regulasi AI," ujar Meutya Hafid, Menkomdigi, di sela acara peluncuran LLM Sahabat AI Model 70B di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Senin (2/6).
Meutya mengatakan pihaknya masih berdiskusi dengan pemangku kepentingan untuk memastikan roadmap AI disusun secara komprehensif. Ia juga mengatakan diskusi tersebut sangat dinamis dengan masukan-masukan baru, mengingat teknologi AI terus bergerak setiap saat.
"Jadi kami sedang mendengarkan, memberikan waktu sedikit lagi untuk masukan-masukan dari para stakeholders untuk kemudian nanti membuat sebuah regulasi yang komprehensif," ujar Meutya.
Berapa tingkat kepercayaanmu untuk mengidentifikasi konten yang diciptakan oleh AI di platform-media sosial? Bagilah pemikiran Anda melalui polling ZONA GADGET berikut dan sertakan pula tanggapan Anda pada kotak komentar.
Penulis: Muhammad Falah Nafis




