Bitcoin Menghadapi Bulan Terburuk Sejak 2022
Harga Bitcoin (BTC) baru-baru ini mengalami penurunan yang cukup signifikan, menutup bulan Juni 2026 dengan performa terburuk dalam empat tahun terakhir. Setelah sempat jatuh di bawah level psikologis 60.000 dollar AS, mata uang kripto terbesar di dunia ini diperdagangkan pada kisaran 58.200 dollar AS pada akhir bulan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor, terutama mengenai potensi penurunan lebih lanjut.
Performa Bulanan yang Mengkhawatirkan
Selama bulan Juni, harga Bitcoin mengalami penurunan lebih dari 21 persen, menjadikannya sebagai penurunan bulanan terdalam sejak Juni 2022. Pada saat itu, harga BTC bahkan sempat jatuh hingga mencapai sekitar 20.000 hingga 19.000 dollar AS. Jika kita melihat kembali, momen tersebut menjadi salah satu titik terendah dalam sejarah Bitcoin ketika banyak perusahaan kripto besar mengalami kebangkrutan dan berbagai kasus penipuan mengguncang industri.
Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di kisaran 58.300 dollar AS atau sekitar Rp 1 miliar, dengan kurs yang berlaku saat ini sekitar Rp 17.930. Namun, dengan penurunan harga yang berlangsung terus-menerus, banyak yang bertanya-tanya apakah Bitcoin akan kembali ke kisaran 20.000 dollar AS seperti yang terjadi empat tahun lalu.
Perbandingan dengan Indeks Saham
Dari sisi performa, Bitcoin mengalami koreksi tahunan (year to date) sekitar 33 persen. Hal ini sangat kontras dengan indeks saham S&P 500 yang justru mengalami penguatan lebih dari 9 persen selama periode yang sama. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pasar kripto saat ini berada dalam kondisi yang jauh lebih sulit dibandingkan dengan pasar saham tradisional.
Lebih mengkhawatirkan, Bitcoin telah kehilangan sekitar 52 persen dari rekor harga tertinggi yang pernah dicapainya pada Oktober 2025, di mana harga Bitcoin saat itu mencapai 126.296 dollar AS per kepingnya—setara dengan Rp 2,1 miliar. Penurunan harga yang dramatis ini menciptakan ketidakpastian di kalangan investor, terutama yang baru terjun ke dunia kripto.
Penyebab Penurunan Harga Bitcoin
Tekanan terhadap harga Bitcoin sebenarnya sudah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Analis mengungkapkan bahwa penurunan kali ini lebih banyak disebabkan oleh aksi jual dan likuidasi di pasar derivatif, tanpa adanya kebangkrutan besar yang mengancam stabilitas pasar. Hal ini berbeda jauh dari kondisi pada 2022, di mana kegagalan perusahaan berskala besar menjadi faktor utama dalam penurunan harga.
Ed Engel, seorang analis dari Compass Point, menjelaskan bahwa meskipun sentimen pasar saat ini cukup pesimis—dikenal sebagai siklus "bearish"—belum ada indikasi kegagalan perusahaan besar seperti yang terjadi pada tahun 2022. Ini menjadi satu titik positif di tengah situasi yang mencemaskan.
Arus Dana Keluar dari ETF Bitcoin
Selain itu, investor institusional juga turut memberikan tekanan pada Bitcoin. Selama bulan Juni, ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus dana keluar (outflow) lebih dari 4,1 miliar dollar AS. Angka ini menjadi outflow bulanan terbesar sejak ETF Bitcoin spot pertama kali diperdagangkan pada Januari 2024, menunjukkan bahwa minat investor terhadap Bitcoin mulai menurun.
Dalam konteks yang lebih luas, situasi ini menciptakan suasana penuh ketidakpastian bagi para investor dan penikmat kripto. Banyak yang berharap agar pasar segera pulih, tetapi dengan tren penurunan yang terus berlanjut, banyak yang meragukan kapan harga Bitcoin akan kembali stabil.
Dengan semua dinamika yang terjadi, baik di pasar kripto maupun di pasar saham, satu hal yang pasti: investor harus tetap waspada dan melakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan investasi. Meskipun pasar kripto dikenal dengan volatilitasnya, tetap penting untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi harga dan sentimen pasar.
Sumber: https://tekno.kompas.com/read/2026/07/01/09250017/harga-bitcoin-terburuk-sejak-2022-bakal-turun-ke-20000-dollar-as-lagi



