Grab Tegaskan Komitmennya di Indonesia
Baru-baru ini, beredar rumor yang menyebutkan bahwa Grab, salah satu perusahaan teknologi terkemuka di Asia Tenggara, berencana untuk hengkang dari pasar Indonesia. Namun, CEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi, dengan tegas membantah kabar tersebut dan menegaskan bahwa Indonesia adalah rumah bagi Grab.
Isu yang Beredar di Media Sosial
Kabar mengenai kemungkinan Grab keluar dari Indonesia mulai ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial. Salah satu akun Instagram, @ecommurz, yang merupakan komunitas eksekutif dan pekerja di bidang teknologi, mengungkapkan bahwa Grab sedang mempertimbangkan untuk mengurangi operasionalnya di tanah air. Berita ini mencuat setelah muncul laporan mengenai evaluasi dampak finansial dari kebijakan baru yang membatasi komisi aplikator menjadi maksimal 8 persen untuk layanan transportasi roda dua.
Saat ini, para mitra pengemudi ojek online (ojol) seperti Grab dan Gojek dikenakan potongan komisi sekitar 20 persen. Namun, dengan adanya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026 yang baru saja diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada tanggal 1 Mei 2026, potongan tersebut akan dibatasi sehingga pengemudi bisa mendapatkan minimal 92 persen dari pendapatan mereka.
Pernyataan Resmi dari Grab
Menanggapi isu tersebut, Neneng Goenadi menyatakan bahwa informasi mengenai rencana Grab untuk hengkang dari Indonesia adalah tidak benar. Ia menegaskan bahwa Grab telah beroperasi di Indonesia selama lebih dari satu dekade dan pihaknya berkomitmen untuk terus berkontribusi pada ekonomi digital nasional.
"Grab senantiasa menghormati arahan dan kebijakan Pemerintah Indonesia, serta berkomitmen untuk terus berjalan selaras dengan agenda nasional dalam memperkuat ekonomi digital kerakyatan yang inklusif dan berkelanjutan," ujar Neneng. Hal ini menunjukkan bahwa Grab tidak hanya melihat Indonesia sebagai pasar, tetapi juga sebagai bagian integral dari strategi jangka panjang mereka.
Kebijakan Baru dan Dampaknya
Dari laporan yang beredar, Grab tengah mencari cara untuk menyesuaikan model bisnisnya agar dapat bertahan dengan kebijakan baru tersebut. Hal ini termasuk kemungkinan penyesuaian biaya kepada konsumen dan mitra pengemudi. Grab juga mempertimbangkan beberapa opsi untuk meminimalkan dampak dari perubahan kebijakan ini.
Namun, meskipun ada tantangan yang dihadapi, Grab tetap optimis dapat beradaptasi dan terus melayani pengguna di Indonesia. Neneng menambahkan bahwa perusahaan akan terus berkolaborasi dengan pemerintah dan stakeholder lainnya untuk memastikan kesejahteraan mitra pengemudi dan keberlanjutan bisnis.
Kesimpulan
Dengan penegasan dari Neneng Goenadi, Grab menunjukkan bahwa mereka tetap berkomitmen untuk beroperasi di Indonesia meskipun ada berbagai tantangan yang dihadapi. Indonesia tetap menjadi salah satu ekosistem penting bagi Grab, dan perusahaan bertekad untuk terus berkontribusi dalam memperkuat ekonomi digital di tanah air. Melalui kolaborasi yang baik dengan pemerintah dan mitra, Grab berharap dapat mengatasi berbagai isu yang muncul dan tetap menjadi pilihan utama bagi pengguna di Indonesia.
Sumber: https://tekno.kompas.com/read/2026/06/04/08180007/grab-bantah-kabar-keluar-dari-indonesia-sebut-ri-adalah-rumah



