Beranda › Mengapa T1 Tidak Selalu Berjaya di EWC dan Selalu Mengancam di Worlds

Mengapa T1 Tidak Selalu Berjaya di EWC dan Selalu Mengancam di Worlds

7/20/2026
Mengapa T1 Tidak Selalu Berjaya di EWC dan Selalu Mengancam di Worlds

Kemenangan mengejutkan Dplus KIA di ajang League of Legends Esports World Cup (EWC) 2026 kembali memicu perdebatan di kalangan komunitas. Banyak yang bertanya-tanya mengapa T1, yang diperkuat oleh pemain bintang seperti Faker, Oner, Gumayusi, Keria, dan Doran, justru gagal mendominasi turnamen tersebut.

Karakteristik Unik T1

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah kompetitif T1. Tim ini memiliki karakteristik unik yang membuat performa mereka melonjak drastis saat memasuki World Championship dibandingkan dengan turnamen internasional lainnya.

Selama beberapa musim terakhir, T1 memang tidak selalu tampil superior di kompetisi domestik maupun ajang seperti MSI dan EWC. Namun, atmosfer pertandingan akan berubah total ketika mereka melangkah ke panggung tertinggi, yaitu World Championship.

Rekor T1 di World Championship

Sejak edisi Worlds 2022, T1 secara spektakuler selalu berhasil menembus babak final, termasuk menyabet gelar juara berturut-turut pada 2023, 2024, hingga 2025. Kemampuan adaptasi luar biasa dalam sistem gugur inilah yang membuat mereka dinilai memiliki mentalitas baja saat tekanan mencapai puncaknya.

Format Fearless Draft di EWC 2026

Salah satu faktor pembeda utama di EWC 2026 adalah implementasi format Fearless Draft. Aturan ini melarang setiap tim untuk memilih kembali karakter (champion) yang sudah mereka gunakan pada game sebelumnya dalam satu rangkaian pertandingan.

Format ini terbukti berhasil mereduksi keunggulan taktis T1 yang selama bertahun-tahun dikenal jenius dalam merancang draf strategi spesifik untuk mengunci kelemahan musuh. Sebaliknya, Dplus KIA tampil jauh lebih efektif dalam menjaga konsistensi permainan meski harus terus mengganti komposisi karakter.

Analisis Kelemahan T1

Dplus KIA berhasil memanen buah kerja keras mereka setelah melewati fase pasang surut di LCK. ShowMaker kembali tampil sebagai motor serangan utama, didukung oleh kedewasaan permainan Lucid di posisi Jungler yang membuat koordinasi tim mereka menjadi sangat solid.

Kematangan kolektif ini juga mendukung teori bahwa counter terbesar bagi Faker adalah para pemain asal Korea Selatan sendiri seperti ShowMaker atau Chovy. Mereka tidak naif dalam menantang Faker berduel mekanik, tetapi melainkan memotong ruang gerak makronya melalui kontrol visi peta dan pengelolaan aliran minion (wave).

Setelah tersingkir dari EWC 2026, Faker secara jantan tidak melemparkan kesalahan pada format pertandingan baru atau keunggulan strategi tim lawan. Dalam wawancara media, sang legenda hidup justru menyoroti kelemahan internal timnya sendiri.

"Ini adalah pertandingan yang mengecewakan untuk menelan kekalahan. Kami tidak tampil sebaik yang telah kami persiapkan. Tidak ada masalah besar dengan komunikasi dalam permainan kami, tetapi pengambilan keputusan sepersekian detik kami sangat buruk," ujarnya.

Budaya evaluasi internal yang jujur inilah yang selalu menjadi kunci utama mengapa T1 selalu bisa bangkit dari keterpurukan. Kekalahan di Riyadh bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bahan bakar bagi T1 untuk kembali bertransformasi menjadi tim yang menakutkan saat panggung Worlds kembali dibuka nanti.

Sumber: https://www.esports.id/read/mengapa-t1-tak-selalu-berjaya-di-ewc-tetapi-nyaris-selalu-mengancam-di-worlds-19056

Advertisement