Penurunan Pengiriman Chipset MediaTek dan Qualcomm
Dalam laporan terbaru dari Counterpoint, terungkap bahwa pengiriman chipset dari dua raksasa semikonduktor, MediaTek dan Qualcomm, mengalami penurunan yang signifikan. Hal ini dipicu oleh meningkatnya biaya chip memori yang memaksa produsen smartphone untuk menyesuaikan strategi produk mereka. Perubahan ini berimbas pada penjualan smartphone, terutama pada model-model yang lebih murah.
MediaTek Masih Memimpin, Namun Tertekan
MediaTek, yang dikenal sebagai vendor chipset terbesar, mencatat penurunan pangsa pasar dari 38% di kuartal pertama 2025 menjadi 32% di kuartal pertama tahun ini. Penurunan ini mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh MediaTek, terutama di segmen entry-level dan mid-tier yang kini mengalami penurunan penjualan. Meskipun demikian, MediaTek masih memiliki kekuatan yang signifikan di pasar, terutama dengan chipset Dimensity 8450 yang sukses di pasar menengah berkat popularitas model seperti Oppo Reno15 Pro dan varian lainnya.
Namun, para analis mengindikasikan bahwa MediaTek kemungkinan tidak akan meluncurkan chipset Dimensity 9500+, karena fokus produsen smartphone saat ini lebih kepada penggunaan chipset Dimensity 9500 yang sudah ada.
Qualcomm Tertekan oleh Peluncuran Galaxy S26
Di posisi kedua, Qualcomm juga mengalami penurunan pangsa pasar. Berita ini sebagian besar disebabkan oleh peluncuran seri Galaxy S26 yang terlambat. Meskipun produk ini baru dijual di bulan terakhir kuartal, beberapa modelnya menggunakan chipset Exynos 2600 dari Samsung. Ini tentu berpengaruh pada penjualan chipset Snapdragon 4 dan 6 yang ditujukan untuk smartphone entry-level dan mid-range.
Dengan kondisi ini, Qualcomm harus beradaptasi untuk mempertahankan posisinya di pasar chipset yang semakin kompetitif. Penurunan ini menunjukkan betapa pentingnya strategi peluncuran produk dalam menentukan keberhasilan di pasar smartphone saat ini.
Peningkatan Permintaan untuk Chipset Apple
Sementara itu, Apple, yang merupakan pembuat chipset terbesar ketiga, menunjukkan performa yang cukup baik. Meskipun Apple hanya memiliki satu pelanggan (yaitu produk iPhone-nya sendiri), pengiriman chip A-series meningkat seiring dengan tingginya permintaan untuk model iPhone 17. Khususnya, model iPhone 17e berhasil terjual lebih banyak dibandingkan pendahulunya, iPhone 16e, berkat penggunaan chipset A19 yang canggih.
Keberhasilan Apple dalam meningkatkan pengiriman chipset ini mencerminkan kuatnya posisi mereka di pasar smartphone premium, yang masih diminati oleh konsumen di seluruh dunia.
Unisoc dan HiSilicon dalam Persaingan Chipset
Unisoc juga mencatat keberhasilan dengan chipsetnya yang digunakan pada smartphone Redmi. Chipset T7250, yang dirancang khusus untuk ponsel 4G, menjadi pilihan populer, sementara T8300 membantu Unisoc memperluas pangsa pasarnya di segmen 5G. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa ada peluang bagi produsen chipset yang lebih kecil untuk bersaing di pasar yang semakin ketat.
Di sisi lain, HiSilicon, milik Huawei, mengalami penurunan pengiriman di kuartal pertama, namun permintaan untuk chipset premium seperti Kirin 9000 dalam seri Huawei Mate 80 tetap kuat. Hal ini memberikan harapan bagi HiSilicon untuk bangkit kembali di pasar chipset yang kompetitif.
Dengan dinamika yang terus berubah dalam industri chipset, baik MediaTek, Qualcomm, maupun perusahaan lainnya harus terus berinovasi dan menyesuaikan strategi mereka agar tetap relevan. Tantangan yang dihadapi oleh para pelaku industri ini menunjukkan betapa pentingnya adaptasi dalam menghadapi perubahan pasar yang cepat.
Sumber: https://www.gsmarena.com/counterpoint_shipments_of_mediatek_and_qualcomm_chipsets_decline-news-73215.php




